Friday, October 29, 2010

Partisipasi Petani/P3A Dalam Kegiatan O&P Jaringan Irigasi Sebagai Upaya Pengelolaan Distribusi Air Yang Lancar, Merata Dan Lestari


A. Latar Belakang
Pembangunan dan atau rehabilitasi jaringan irigasi akan berkurang manfaat dan usia fungsionalnya jika tidak dilakukan pemeliharaan dan pengelolaan operasional yang baik, berkesinambungan dan tepat dari semua pihak yang berkepentingan dalam kegiatan pemanfaatan air irigasi.
Keterbatasan dana, fasilitas dan petugas O&P yang disediakan oleh Pemerintah untuk pengelolaan dan pemeliharaan fungsi jaringan irigasi jika tidak didukung oleh masyarakat akan berpotensi menyebabkan penurunan kondisi jaringan irigasi dan pada tingkat lanjut dapat menyebabkan terganggungnya fungsi jaringan irigasi dalam pendistribusian air irigasi.
Salah satu unsur yang dapat dan seyogyanya berperan aktif dalam kegiatan O&P jaringan irigasi adalah masyarakat/petani pemakai air yang mendapatkan manfaat dari keberadaan jaringan irigasi, yang dikoordinasikan oleh masing-masing P3A bekerja sama dengan Pengamat/UPT Pengairan setempat.
Partisipasi petani/P3A dilaksanakan untuk meningkatkan rasa memiliki, rasa tanggung jawab serta meningkatkan kemampuan masyarakat petani/P3A dalam rangka mewujudkan efisiensi, efektifitas dan keberlanjutan sistem irigasi. Adanya peran aktif petani dan P3A dalam kegiatan O&P dapat menjamin keberlangsungan dan terjaganya kondisi dan fungsi jaringan irigasi yang telah dibangun.

B. Pengertian Dasar
Pemberdayaan petani pemakai air/P3A dalam kegiatan O&P merupakan upaya membantu pemerintah dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan irigasi yang dilakukan secara individu petani pemakai air dan atau secara kelompok/gotong royong/P3A, meliputi segala tindakan yang terkait dengan upaya pengoperasionalan pendistribusian air dan pemeliharaan jaringan irigasi tanpa mengurangi batas kewenangan pengamat pengairan.
Koordinatif dan silaturahmi dengan Pengamat/UPT Pengairan serta gotong-royong merupakan azaz yang harus dikembangkan P3A/petani pemakai air dalam segala kegiatan O&P.
Pemberdayaan petani pemakai air/P3A meliputi unsur operasi pengaturan dan penditribusian air serta unsur pemeliharaan jaringan air.
Kegiatan O&P jaringan irigasi meliputi pengaturan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi untuk menjamin kelestarian kondisi, fungsi dan manfaat jaringan irigasi.

C. Dasar Hukum
Dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan O&P Jaringan Irigasi mengacu pada peraturam yang berlaku antara lain, sebagai berikut :
1.        UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Pasal 64, dengan inti sari sebagai berikut:
§  Masyarakat ikut berperan dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
§  Pelaksanaan O&P sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Sedangkan pelaksanaan O&P sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab masyarakat petani pemakai air.
2.     Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi
Pasal 56, dengan inti sari sebagai berikut :
O&P jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.
Perkumpulan petani pemakai air (P3A) dapat berperan serta dalam O&P jaringan irigasi primer dan sekunder sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. O&P jaringan irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air (P3A). (ayat 5).
Pasal 59 dan 60, dengan inti sari sebagai berikut :
Dalam rangka O&P jaringan irigasi dilakukan pengamanan jaringan irigasi yang bertujuan mencegah kerusakan jaringan irigasi, yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dan P3A sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
Langkah pengamanan dilakukan dengan penetapan garis sempadan pada jaringan irigasi yang ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Untuk mencegah kehilangan air irigasi dan kerusakan jaringan irigasi dilarang membuat galian dan mendirikan bangunan didalam garis sempadan sungai.
3.     PERMEN PU No.30 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengembangan dan Pengelolaan Irigasi Partisipatif
Pasal 3 sampai dengan Pasal 8, dengan inti sari sebagai berikut :
Pengelolaan sistem irigasi yang bertujuan untuk mewujudkan kemanfaatan air dalam bidang pertanian diselenggarakan secara partisipatif dan pelaksanaanya dlakukan dengan berbasisi pada peran serta masyarakat petani/P3A/GP3A/IP3A.
Pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder merupakan kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah atau Pemerintah Daerah, sedangkan pengelolaan sistem irigasi tersier merupakan hak dan tanggung jawab P3A.
Partisipasi masyarakat petani/P3A/GP3A/IP3A dalam kegiatan pengelolaan jaringan irigasi primer dan sekunder dilaksanakan berdasarkan prinsip :
§  Sukarela dengan berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat
§  Kebutuhan. Kemampuan, dan kondisi ekonomi, sosial dan budaya masyarakat petani/P3A/GP3A/IP3A yang bersangkutan.
§  Bukan bertujuan mencari keuntungan
Partisipasi masyarakat petani/P3A/GP3A/IP3A dilaksanakan untuk meningkatkan rasa memiliki, rasa tanggung jawab serta meningkatkan kemampuan masyarakat petani/P3A/ GP3A/IP3A dalam rangka mewujudkan efisiensi, efektifitas dan keberlanjutan sistem irigasi.

D. Pelaksanaan Operasi Jaringan Irigasi
Pelaksanaan operasi jaringan irigasi adalah upaya pengaturan air irigasi agar dapat dimanfatkan secara efektif, efisien, dan merata melalui kegiatan membuka-menutup pintu bangunan irigasi, menyusun rencana tata tanam, menyusun sistem golongan, menyusun rencana pembagian air, melaksanakan kalibrasi pintu/bangunan, mengumpulkan data, memantau, dan mengevaluasi.
1.     Pemberdayaan P3A/GP3A/IP3A :
a.     Tujuan pemberdayaan atau peran aktif P3A dalam pelaksanaan kegiatan operasi jaringan irigasi Mamak-Kakiang adalah :
a.1.      Merupakan perpanjangan tangan dan membantu keterbatasan kemampuan pemerintah/ pengamat pengairan, baik dalam segi waktu, tenaga maupun biaya, dalam penyelenggaraan kegiatan operasi jaringan irigasi.
a.2.      Terselenggaranya pengaturan air secara adil antara pemanfaat di hulu dan pemanfaat air di hilir.
a.3.      Mengurangi potensi konflik sesama petani sehubungan dengan pemakaian air irigasi.
a.4.      Terjaminnya keandalan penyediaan air serta tercapainya pola tanam dan intensitas tanam rencana yang disesuaikan dengan target pemerintah dan ketersediaan air.
 b.     Lingkup Peran Aktif Petani/P3A  dalam pelaksanaan operasi jaringan irigasi, antara lain :
b.1.      Pengajuan usulan rencana tata tanam
Petani melalui P3A/GP3A/IP3A dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam penyusunan rencana tata tanam musim tanam berikutnya dengan memberikan masukan, saran, gagasan dan pemikiran kepada Panitia Irigasi, yang disesuaikan dengan kebutuhan, kodisi sosial budaya dan kemampuan ekonomi masyarakat petani.
Bentuk partisipasi dan peran aktif P3A dapat berupa usulan rencana tata tanam, pola tanam, jadwal tanam dan jadwal pemberian/pembagian air serta usulan perubahan-perubahannya jika diperlukan sepanjang kurun waktu musim tanam.
Komisi irigasi dan atau Pengamat Pengairan akan mempertimbangkan usulan, masukan, saran dan gagasan tersebut berdasarkan aspek teknis (ketersediaan air, kemampuan jaringan irigasi, dll.) dan target-target Pemerintah.
 b.2.      Menjaga efektifitas, efisiensi dan memantau ketertiban pengoperasian jaringan irigasi ditingkat primer dan sekunder.
§  Petani secara pribadi berperan aktif dalam menjaga ketertiban pengoperasian jaringan irigasi dengan cara mematuhi pola tanam, jadwal tanam, jadwal pembagian air dan pengaturan debit yang dioperasikan untuk suatu saluran primer/sekunder.
§  Secara pribadi petani dapat melakukan penjagaan, pemantauan dan pengoperasian dengan jalan mencegah, mengingatkan, menegur dan melaporkan ke P3A/Petugas Pengairan (JPA/Juru Pengairan/Pengamat Pengairan) jika menemui upaya perseorangan/kelompok yang melakukan tindakan tidak patuh pada kesepakatan rencana tata tanam, jadwal tanam, jadwal pengoperasian air dan pengaturan debit air. Diupayakan tidak melakukan tindakan sendiri-sendiri jika tidak diperoleh penyelesaian dilapangan. Koordinasi dan musyawarah ditingkat lebih tinggi (P3A/GP3A/IP3A dan Pengamat serta Pemerintah Daerah setempat) dalam penyelesaian akan diperoleh penyelesaian yang lebih baik.
§  Perkumpulan petani (P3A/GP3A/IP3A), merupakan wadah koordinasi dalam menjaga dan memantau ketertiban pengoperasian jaringan irigasi dan merupakan wadah yang harus berperan aktif dalam penyelesaian permasalahan pelanggaran-pelanggaran pengoperasian jaringan irigasi yang telah direncanakan dan disepakati.
§  P3A/GP3A/IP3A harus berperan aktif dalam membina, membangkitkan rasa memiliki dan semangat gotong royong, musyawarah dan mufakat terkait dengan pelaksanaan operasi jaringan irigasi. Mengingatkan, menegur dan memberi sangsi kepada anggotanya yang melakukan pelanggaran yang dapat mengganggu pelaksanaan operasi pemberian/pembagian air yang adil dan merata.
§  Petani dan atau P3A harus mencegah terjadinya pengambilan air secara tidak syah/ilegal (pembuatan pelompong liar) disaluran primer dan sekunder secara pribadi maupun berkelompok, karena akan mengganggu pengoperasian dan pembagian debit air tidak dapat terpantau dan terukur dengan baik.
§  Petani dan atau P3A secara aktif dapat membantu menjaga keberadaan bangunan air dan kelengkapannya dari upaya pengerusakan atau pencurian karena akan menggangu pengoperasian dan pembagian debit air tidak dapat terpantau dan terukur dengan baik.
§  Petani secara pribadi dan atau kelompok dapat melakukan atau membantu pekerjaan darurat dan segera melaporkan pekerjaan yang telah dilaksanakan kepada pengelola jaringan irigasi (Pengamat dan petugasnya) untuk mencegah kerusakan jaringan irigasi yang lebih besar. Misalnya menutup pintu intake bendung jika mendadak terjadi banjir besar, menutup pintu regulator bangunan bagi/sadap jika terjadi bencana yang mengakibatkan terputusnya saluran, dan lain-lain.
§  Petani dan P3A berhak memberikan sumbangan pemikiran, saran, waktu, tenaga dan material untuk membantu kelancaran pelaksanaan operasi jaringan irigasi ditingkat primer dan sekunder.
 b.3.      Menjaga efektifitas, efisiensi dan ketertiban dalam pengoperasian jaringan irigasi di tingkat tersier
§  Petani secara pribadi berperan aktif dalam menjaga ketertiban pengoperasian jaringan irigasi dengan cara mematuhi pola tanam, jadwal tanam, jadwal pembagian air dan pengaturan debit yang dioperasikan untuk suatu saluran tersier.
§  Petani tidak melakukan penyadapan langsung dari saluran primer atau sekunder ke sawah (sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi, pasal 43). Jika terjadi permasalahan ketidak-lancaran air seharusnya disampaikan ke P3A untuk mencari pemecahan masalah ditingkat P3A atau meneruskannya ke GP3A/IP3A atau ke Pengamat Pengairan jika tidak dapat teratasi.
§  Petani dan P3A harus menjaga dan memantau terhadap pembagian air di tingkat tersier di wilayah kerja P3A-nya agar adil dan merata sesuai dengan debit yang direncanakan.
§  Petani dan P3A harus menjaga, mengingatkan, menegur dan memberi sangsi terhadap pemakaian air irigasi yang berlebihan.
§  Petani dan P3A harus mengingatkan, menegur dan melaporkan kepada GP3A dan instansi terkait serta pemerintah Desa/Kecamatan jika ditemukan penggunaan air oleh perseorangan dan atau kelompok selain untuk penggunaan sesuai yang telah direncanakan, disepakati dan diijinkan.
§  Petani dan atau P3A secara aktif menjaga keberadaan bangunan air dan kelengkapannya dari upaya pengerusakan atau pencurian karena akan menggangu pengoperasian dan pembagian debit air tidak dapat terpantau dan terukur dengan baik.
b.4.      Memberikan masukan terhadap penyempurnaan sistem irigasi ditingkat tersier.
§  Petani melalui koordinasi P3A dapat merubah, membangun dan melengkapi jaringan irigasi (termasuk bangunan pendukungnya) untuk penyempurnaan dan kelancaran pembagian air irigasi dengan terlebih dahulu memberitahukan kepada petugas pengelola jaringan irigasi (pengamat).
§  Dalam hal perkumpulan petani pemakai air tidak mampu melaksanakan pembangunan jaringan irigasi tersier yang menjadi hak dan tanggung jawabnya, Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota dapat membantu pembangunan jaringan irigasi tersier berdasarkan permintaan dari perkumpulan petani pemakai air dengan memperhatikan prinsip kemandirian.
 b.5.      Memberikan sumbangan pemikiran, gagasan, tenaga, material dan dana.
§  Partisipasi petani didasarkan kepada kemampuan petani dengan didasari semangat kemitraan dan kemandirian.
§  Petani dan atau P3A/GP3A/IP3A dapat berpartisipasi dengan memberikan sumbangan pemikiran, gagasan, tenaga dan dana dalam upaya membantu petugas pengelola jaringan irigasi (pengamat dan Pemerintah) dalam pelaksanaan operasi jaringan irigasi agar dapat terlaksana dengan baik, adil, merata, lancar dan memuaskan semua pihak.
§  Kemandirian P3A dalam upaya membantu pelaksanaan operasi jaringan irigasi akan sangat membantu kondisi operasi jaringan yang baik, adil, merata, lancar dan memuaskan semua pihak.
b.6.      Mencari inovasi teknologi budidaya pertanian (padi) terbaru dan akurat.
§  Petani dan atau P3A/GP3A/IP3A harus dapat membuka diri dan wawasan untuk menerima dan menerapkan inovasi teknologi budidaya pertanian terbaru dan telah terbukti memberi hasil yang lebih baik dan lebih menguntungkan.
§  Harus mulai diwacanakan dalam diri petani dan P3A untuk mencoba menguasai teknik budidaya padi dengan sistem SRI yang telah terbukti lebih menguntungkan dari segi hemat air, produktifitas lahan dan kualitas padi.
§  Studi banding pada daerah yang sudah berhasil menerapkan budidaya padi dengan sistem SRI akan dapat memberikan motivasi kepada petani anggotanya agar terbuka keinginan dan kemauan untuk menguasai dan menerapkan teknik budidaya padi sistem SRI.

2.     Yang Harus Diperhatikan Dalam Operasi Jaringan Irigasi oleh P3A/GP3A/IP3A:
Dalam kegiatan pengaturan, pelaksanaan dan pemantauan operasi pendisitribusian air harus diperhatikan, antara lain :
a.        Pengoperasian pintu air merupakan kewenangan Petugas Pengelola Jaringan Irigasi (Pengamat/UPT Pengairan dan petugasnya).
b.        Pengoperasian pintu air harus memperhatikan tinggi muka air rencana (MAR) dimasing-masing saluran dan luas areal yang dilayani.
c.        Tinggi atas lining bukanlah tinggi muka air rencana dari saluran. Tinggi lining sudah ditambah dengan tinggi jagaan, agar jika ada gangguan dalam saluran seperti sedimen, sampah, batu jatuh, penyempitan saluran dan air hujan, muka air di saluran tidak melimpah diatas lining. Hal ini untuk mencegah terjadinya gerusan air pada tanggul tanah diatas lining dan air melimpah diatas tanggul.

d.        Dremple/ambang ukur diperlukan untuk mengukur debit yang dialirkan ke saluran tersier yang ukuran (lebar dan tingginya) sudah diperhitungan dapat mengalirkan debit air yang diperlukan pada petak tersier tersebut, sehingga tidak boleh dibongkar dan atau diturunkan.
e.        Pintu regulator dipergunakan untuk mengatur debit air ke arah hilir dan mengatur tinggi muka air yang dibutuhkan pada bangunan sadap. Pengaturan pintu regulator dan pintu air lainnya pada saluran primer dan sekunder merupakan kewenangan petugas pengelolaan jaringan irigasi (Pengamat beserta petugasnya).
f.         Penambahan batang pisang/papan/dan lain-lain diatas daun pintu merupakan salah satu bentuk pelanggaran yang dapat mengakibatkan terganggunya operasi jaringan irigasi dan dalam kondisi muka air melewati tinggi lining tebing saluran dapat menyebabkan kerusakan tanggul saluran.
 g.        Pada bangunan sadap minor yang tidak disediakan pintu air permanen dan hanya disediakan lubang skot balok, baik ke arah tersier maupun ke arah hilir saluran sekunder, agar disediakan sendiri papan/kayu penutup sehingga jika sudah tidak memerlukan air lagi lubang sadap minor dapat ditutup dan lubang ke harah hilir saluran sekunder dapat dibuka, sehingga operasi dan besar debit air ke bagian hilir dapat sesuai dengan kebutuhan.
h.        Untuk mencegah air irigasi meluap diatas muka air rencana, pada jaringan irigasi umumnya telah direncanakan bagunan pelimpah. Lubang bangunan pelimpah tidak boleh ditutup (dengan tanah/pasangan batu/dll.), untuk mencegah melimpasnya air diatas tanggul saluran.
 
i.         Tidak membuat pagar batas tanah di kawasan sempadan saluran, apalagi membuat pagar batas yang dapat mengalangi kemudahan dalam pengoperasian, pengaturan dan pengontrolan pembagian air.

3.     Sistem Pengaturan/Penjadwalan Pemberian Air
Pengaturan dan penjadwalan pemberian air harus mengacu pada hasil analisis ketersediaan air dengan kemungkinan tercapai/terjadi 80% (syarat teknis), yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Pola Tanam Global (RPTG) yang mengatur antara lain
a.        Pola Tanam dan Intensitas Tanam
b.        Jadwal Tanam
c.        Pembagian Golongan
Untuk efisiensi ketersediaan air dan antisipasi ketersediaan tenaga kerja pertanian.

E. Pelaksanaan Pemeliharaan Jaringan Irigasi
Pemeliharaan Jaringan Irigasi merupakan upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu dapat berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan kelestariannya.
1.     Pemberdayaan P3A/GP3A/IP3A :
a.     Tujuan pemberdayaan atau peran aktif P3A dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi Mamak-Kakiang adalah :
·         Merupakan perpanjangan tangan dan membantu keterbatasan kemampuan pemerintah/pengamat pengairan, baik dalam segi waktu, tenaga maupun biaya, dalam penyelenggaraan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi.
·         Terbentuknya sikap memiliki dan membutuhkan terhadap keberadaan jaringan irigasi.
·         Terjaminnya distribusi air irigasi keseluruh daerah layanan sesuai dengan debit yang dibutuhkan dan direncanakan.
·         Terjaminnya keandalan penyediaan air serta tercapainya pola tanam dan intensitas tanam rencana yang disesuaikan dengan target pemerintah dan ketersediaan air.
·         Terjaganya kondisi/kinerja jaringan irigasi bersih dan lancar untuk kurun waktu lama/tercapainya usia guna jaringan irigasi sesuai dengan yang direncanakan.
b.     Lingkup peran aktif Petani/P3A  dalam pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi, antara lain :
b.1.   Pengamanan dan Pencegahan Kerusakan Jaringan Irigasi
Pengamanan jaringan irigasi merupakan upaya untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh daya rusak air, hewan, atau oleh manusia guna mempertahankan fungsi jaringan irigasi.
Segala kegiatan yang dapat membahayakan atau merusak jaringan irigasi dilakukan tindakan pencegahan berupa memberikan pengertian, teguran, dan sangsi serta pemasangan papan larangan, papan peringatan atau perangkat pengamanan lainnya.
Kegiatan pengamanan dan pencegahan yang dapat dilakukan petani dan P3A,  antara lain:
Ø  Tindakan Pencegahan
§  Petani dilarang penggalian/pengolahan tanah didalam bidang saluran atau dibidang kaki tanggul saluran agar tidak mengganggu kestabilan tanggul dan mencegah kemungkin terjadinya kebocoran.
§  Tidak membiarkan dan menghalau hewan ternak (kerbau, sapi dan lain-lain) agar tidak masuk kedalam saluran.
§  Tidak memandikan hewan ternak (kerbau, sapi dan lain-lain) didalam saluran, tetapi memandikan ditempat mandi hewan yang telah disediakan.
§  Tidak melakukan kegiatan mandi dan cuci di sembarang tempat disaluran, pergunakanlah tempat cuci/tangga cuci yang telah disediakan.
§  Tidak menyeberangkan binatang ternak disembarang tempat, seberangkan dijembatan hewan yang telah disediakan.
§  Tidak mencuci kendaraan ditanggul saluran karena dapat mengikis dan merusak tanggul saluran dan jalan inspeksi.
§  Tidak menanam pohon jenis tanaman keras/tahunan dan semusim, misalnya pohon kelapa, mangga, nangka, pisang dan lain-lain, ditanggul saluran karena dapat merusak tanggul dan lining saluran. Jika pohon sudah besar dan tiba-tiba tumbang dapat menyebakan tanggul jebol/runtuh.  
§  Menetapkan dan selalu menjaga/mengontrol garis sempadan saluran sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
§  Petani secara mandiri dan atau P3A secara rutin mengontrol patok-patok batas tanah pengairan supaya tidak dipindahkan oleh masyarakat
§  Memasang papan larangan tentang penggarapan tanah dan mendirikan bangunan di dalam garis sempadan saluran.
§  Tidak membuat pagar batas tanah melewati garis sempadan saluran yang dapat menyulitkan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi.
§  Memasang papan larangan untuk kendaraan yang melintas jalan inspeksi yang melebihi kelas jalan.
§  Melarang mandi disekitar inlet siphon dan lokasi-lokasi tertentu yang berbahaya.
§  Melarang mendirikan bangunan atau menanam pohon di tanggul saluran irigasi.
Ø  Tindakan Pengamanan
§  Membuat bangunan pengamanan ditempat-tempat yang berbahaya, misalnya: disekitar talang, siphon, ruas saluran yang tebingnya curam, dan lain sebagainya.
§  Kegiatan mandi dan cuci dilakukan ditempat mandi/tangga cuci yang telah disediakan.
§  Memandikan hewan di tempat mandi hewan yang telah dibangun.
§  Pemasangan penghalang di jalan inspeksi dan tanggul-tanggul saluran berupa portal, patok.
b.2.   Memelihara jaringan irigasi
§  Petani dan atau P3A secara pribadi wajib berperan aktif dalam pemeliharaan jaringan irigasi ditingkat tersier/kuarter dengan cara pemeliharaan fisik dan pembersihan bangunan dan saluran irigasi, sehingga kondisi jaringan irigasi tetap terjaga untuk menjamin kelancaran dan kemudahan operasi jaringan irigasi.
§  Pemeliharaan fisik bangunan dan saluran irigasi berupa kegiatan mencegah kerusakan bangunan irigasi dan pintu box oleh sebab apapun, memperbaiki kerusakan bangunan irigasi, mencegah kerusakan dan menjaga/memperbaiki dimensi/bentuk saluran sesuai dengan bentuk awal.
§  Petani/P3A/GP3A/IP3A berpartisipasi dalam kegiatan penelusuran jaringan irigasi, penyusunan kebutuhan biaya dan pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jaringan irigasi primer dan sekunder (PERMEN PU No. 30/PRT/M/2007 pasal 23).
§  Terkait dengan hal diatas partisipasi dalam penelusunan jaringan irigasi meliputi penyampaian usulan prioritas pekerjaan dan cara pelaksanaan pekerjaan.
§  Dalam hal penyusunan kebutuhan biaya, Petani/P3A/GP3A/IP3A dapat memberikan usulan kontribusi berupa material dan atau dana untuk membantu pembiayaan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
§  Jika dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan pemeliharaan jaringan irigasi, petani/P3A harus bersedia memberhentikan pengaliran air irigasi dengan tetap memperhatikan kondisi tanaman.
§  Dalam hal penghentian air/kebutuhan pengeringan saluran, petani/P3A dapat memberikan masukan dan atau usulan atas waktu dan bagian jaringan irigasi yang harus dikeringkan, dan harus diputuskan selambat-lambatnya 30 hari sebelum pengeringan dilaksanakan.

3.     Tata Cara Pemeliharaan Jaringan Irigasi oleh Petani dan P3A
Agar diperoleh kondisi jaringan irigasi yang dapat berfungsi dengan baik dan lancar dalam mendistribusikan air irigasi, maka Pemeliharaan Jaringan Irigasi Mamak-Kakiang direkomendasikan sebagai berikut :
a.        Pemeliharaan Berkala
Pemeliharaan berkala merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan yang dilaksanakan secara berkala dalam kurun waktu tertentu yang direncanakan dan dilaksanakan oleh Pengamat/UPT Pengairan dan dapat bekerja sama dengan P3A/GP3A secara swakelola berdasarkan kemampuan lembaga tersebut dan dapat pula dilaksanakan secara kontraktual.
Pelaksanaan pemeliharaan berkala harus dilaksanakan secara periodik sesuai kondisi Jaringan Irigasi. Setiap jenis kegiatan pemeliharaan berkala dapat direncanakan dengan periode yang berbeda-beda.
Disarankan pemeliharaan jaringan irigasi secara berkala dilakukan serempak minimal dilaksanakan 2 kali dalam satu tahun, yaitu dilaksanakan menjelang musim tanam pertama (MT.1) dan menjelang musim tanam kedua (MT.-2).
Pemeliharaan jaringan irigasi berkala melibatkan partisipasi petani (gotong royong) dalam koordinasi P3A dan Pengamat, dilaksanakan mulai dari saluran primer, sekunder sampai tersier sebagai persiapan dimulainya musim tanam.
Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan ini sebaiknya didampingi oleh pembiayaan yang disediakan oleh Pemerintah dan didukung oleh swadaya masyarakat. Sistem pengaturannya dilakukan dengan konsultasi dengan petani/P3A/GP3A/IP3A, kecuali pada pemeliharaan berat yang membutuhkan alat bantu teknis tertentu dan harus dilaksanakan secara kontraktual.
Pemeliharaan berkala dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pemeliharaan yang bersifat perawatan, pemeliharaan yang bersifat perbaikan dan pemeliharaan yang bersifat penggantian.
Pekerjaan pemeliharaan berkala meliputi :
Ø  Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perawatan
§  Pembuangan lumpur dan sampah di bangunan dan di saluran
§  Pembersihan semak di bangunan dan di saluran primer dan sekunder yang tidak melewati/melalui daerah persawahan yang mendapatkan manfaat.
Ø  Pemeliharaan Berkala Yang Bersifat Perbaikan
§  Perbaikan ringan-hingga sedang bangunan pengambilan dan bangunan pengatur
§  Perbaikan ringan pada saluran
§  Perbaikan ringan jalan inspeksi

b.        Pemeliharaan Rutin
Merupakan kegiatan perawatan dalam rangka mempertahankan kondisi Jaringan Irigasi yang dilaksanakan secara terus menerus.
Pemeliharaan rutin disarankan dapat dilakukan oleh petani disepanjang saluran primer, sekunder dan tersier yang melalui daerah persawahan yang mendapat manfaat/ menggunakan air irigasi dari saluran. Sedangkan pada bagian/ruas saluran primer dan sekunder yang tidak melalui daerah persawahan  yang mendapat manfaat/menggunakan air irigasi dari saluran dilakukan oleh Pengelola jaringan irigasi (Pengamat/UPT Pengairan).
Partisipasi petani/P3A pada kegiatan pemeliharaan rutin pada saluran primer, sekunder dan tersier disarankan dilakukan dengan membagi dan memberikan tanggung-jawab terhadap petani pemilik/petani penggarap didasarkan atas perbandingan luas pengelolaan lahan sawah masing-masing, sehingga diperoleh azaz keadilan, dimana yang mendapatkan manfaat lebih besar/dibudayakan lebih besar akan mendapatkan bagian tanggung-jawab pemeliharaan rutin yang lebih besar pula.
Pembagian tanggung jawab pemeliharaan rutin pada saluran primer/sekunder dan saluran tersier haruslah berdasarkan koordinasi P3A setempat dengan bermusyawarah dengan seluruh petani anggotannya.
Petani dan pengurus P3A hendaklah selalu melakukan pemantauan dan pengawasan jaringan irigasi agar dapat diketahui anggota yang patuh dan tidak dalam pemeliharaan jaringan irigasi yang menjadi tanggung jawabnya. Sebaiknya untuk mempermudah pemantauan dan pengawasan pada saluran ditulis nama petani yang bertanggung jawab terhadap pemeliharaan rutin jaringan irigasi, seperti contoh foto dibawah ini.
Petani anggota P3A dan pengurus P3A hendaknya selalu menambah wacana dengan diskusi/dialog dengan penyuluh/petugas lapangan agar dapat memperoleh ide-ide/pemikiran yang dapat mempermudah pelaksanaan pemeliharaan rutin jaringan irigasi oleh petani anggotanya.
Kegiatan pemeliharaan rutin yang dapat dilakukan oleh Petani dan atau P3A, meliputi :
a)       Yang bersifat Perawatan :
§  Memperbaiki longsoran-longsoran kecil yang terjadi pada tanggul dan lereng saluran.
§  Merapikan profil saluran supaya tetap berbentuk trapesium (sedapat mungkin).
§  Membersihkan sampah/endapan sedimen disekitar pintu air, alat pengukur debit dan lain-lain.
§  Membersihkan tanaman/semak dan sedimen pada ruas saluran yang menjadi tanggung-jawab pemeliharaan rutinnya.
§  Segera menutup kembali pintu skot balok dipintu sadap minor jika sudah tidak diperlukan mengalirkan air.
§  Segera membuka kembali pintu skot balok di dalam saluran setelah tidak diperlukan lagi mengangkat air ke saluran tersier sebelum waktu giliran air habis. Gunanya untuk membersihkan saluran dari endapan sedimen serta memperlancar aliran air ke hilir yang mendapatkan giliran pemberiaan air dan mencegah meluapnya air ke tanggul saluran.
b)       Yang bersifat Perbaikan Ringan
§  Menutup lubang-lubang bocoran kecil di saluran/bangunan.
§  Perbaikan kecil pada pasangan, misalnya siaran/plesteran yang retak atau beberapa batu muka yang lepas.
 
F. KESIMPULAN DAN POINTER O&P Jaringan Irigasi
Kesimpulan dan Pointer atau titik berat dan yang harus digaris-bawah dalam pelaksanaan O&P Jaringan Irigasi dengan sistem partisipasi masyarakat adalah :
1.        Biaya pekerjaan pembangunan dan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah sangatlah besar.
2.        Ketersediaan dana untuk pembiayaan O&P tahunan jaringan irigasi oleh Pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan O&P tahunan dengan tujuan mempertahankan kondisi jaringan irigasi tetap terjaga seperti diawal pembangunan/setelah direhabilitasi.
3.        Mengacu pada dua poin di atas, maka dapat digaris-bawahi bahwa :
*        Tanpa adanya peran aktif/partisipasi petani dan P3A dalam kegiatan O&P maka kinerja jaringan irigasi dipastikan tidak dapat dipertahankan dalam kurun waktu 5 tahun

Sekian dan terima kasih.
Untuk artikel Paduan Partisipasi OP Jaringan Irigasi lebih lanjut (disertai gambar-gambar ilustrasi), dapat didownload disini : 

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Komentar anda sangat kami hargai. Isikan pendapat anda tentang tulisan ini di bawah ini ...